ADA KONSEKUENSI DARI PERBUATAN KITA DI DUNIA



(Hosea 8:7b)  

Sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliung...

Seorang saudagar muda, berwajah tampan, dan hidup bergelimang harta kekayaan.
Namun sayangnya, sikapnya sangat sombong, mau menang sendiri, 
suka menyinggung perasaan orang lain, bahkan sering menindas orang² kecil di sekitarnya.

Karena tabiat buruknya tersebut ia pun dijauhi oleh orang² di sekitarnya. 

Karena ia merasa dirinya makin disingkirin orang, pikirannya mulai galau dan hatinya dipenuhi kekacauan

Ia mendatangi seorang guru bijak demi meminta saran dan nasihatnya, agar orang2 di sekitarnya tidak lagi menjauhi atau mengucilkan dirinya.

Setelah mendengar semua keluh kesahnya, sang guru berkata dengan bijak, “Anak muda, sebagai terapi, lakukanlah hal² berikut ini: setiap saat kamu berbuat jahat, menyakiti hati orang lain, tandailah perbuatan mu dengan menancapkan sebuah paku di atas pagar depan rumahmu. 
Dan begitu pagar rumahmu telah penuh dengan paku, datanglah kembali kepada ku.”

Maka, pulanglah pemuda ini ke rumah & ia mulai mencoba menjalankan nasihat gurunya.

Setiap kali ia berbuat jahat atau menyakiti hati orang lain, ia tancapkan sebuah paku diatas pagar rumah nya yg terbuat dari kayu itu.

Selang beberapa waktu kemudian, pagar rumahnya telah penuh oleh tancapan paku. 

Dan kenyataannya, tidak ada perubahan apa²
Orang² di sekitarnya tetap saja menjauh dan tidak mau berhubungan dengan nya.

Saudagar muda ini merasa mulai lelah, kecewa dan bersedih hati

Lalu, kembali ia mendatangi sang guru untuk melaporkan hasilnya

Sang guru berkata, “Anak muda, dari raut wajahmu, bapak tahu, tentu pagar rumahmu sudah dipenuhi paku. Benar? 
Nah, sekarang cobalah berbuat baik & ramahlah kepada orang lain dan setiap kali kamu urung berbuat jahat atau mampu berbuat baik kepada orang lain, cabut satu paku dari pagarmu. 
Dan nanti apabila paku² yg di pagar itu sudah habis kau cabuti, datanglah kembali ke sini.”
Ia pun pulang dan bertekad mematuhi nasehat sang guru.
Setiap hari, ia berusaha dgn sekuat tenaga mengendalikan sikap buruknya dan setiap kali mampu menahan diri tidak berbuat buruk atau berhasil melakukan perbuatan baik, segera satu paku dia cabut

Beberapa waktu kemudian, paku² di pagar rumahnya pun telah habis dicabuti.

Tanpa disadari, saudagar muda ini telah berubah menjadi orang yang lebih sabar, mau mengerti orang lain, dan lebih bijak.
Saat tiba kembali di rumah sang guru, dgn senyum gembira sang guru menyambutnya & berkata, “Anak muda, sekarang kamu tentu sudah menjadi orang yang berbeda. 
Kau pasti lebih sabar, lebih bijak, dan mampu melakukan perbuatan baik

Nah, pelajaran apa yang bisa dipetik dari semuanya ini?
Lihatlah pagarmu, di sana ada bekas tancapan paku, bukan? Mau ditutupi atau dipoles seperti apa pun, tetap saja pagar rumahmu tidak bisa mulus seperti sediakala. 

Nah, seperti itulah luka yang pernah kau timbulkan pada orang lain. 
Walaupun kamu berusaha untuk meminta maaf dan memperbaikinya, namun tetap ada bekas luka di hati mereka”

Memang manusia tidak luput dari berbuat salah, entah disengaja atau tidak. 
Saat kita menyadari, secara konsekuen, kita sepantasnya meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi.

Namun tidak semua orang mau memaafkan apalagi jika kesalahan atau perlakuan buruk yang pernah kita lakukan itu telah melukai hatinya, menjatuhkan harga diri, dan menimbulkan penderitaan batin yang berkepanjangan.

Memang antara kita dgn pihak Tuhan, sudah beres

(Ibrani 10:10, 14, 17 )

Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali unt.se-lama²nya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.
Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka." 

Namun antara kita dengan sesama ada konsekuensinya atau hukum tabur tuai

(Galatia 6:7b)  

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. 
Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

(Matius 7:1-2,12)

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Oleh karena itu, marilah kita jaga ucapan, hati & pikiran, juga sikap & perilaku kita.

(Galatia 6:9)  

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

Toh segala sesuatu yg kita buat, akhirnya itu berpulang untuk kebaikan buat diri kita sendiri juga

(1 Timotius 6:18-19)

Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi & membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA YANG DIMAKSUD CERDIK & TULUS ?

KITA DIPANGGIL UNTUK MENGIKUTI JEJAK-NYA

ALASANNYA TUHAN MENGAJAR KITA LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI